Cara Agar Anak Mau Mendengarkan

Mendengarkan dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh bunda atau ayah memang bukan hal favorit balita, kadang-kadang sangat sulit untuk berbicara dengan anak-anak kita dan untuk membuat mereka benar-benar memperhatikan dan mendengarkan hal yang kita katakan.

Mereka umumnya memang sudah bisa memahami perkataan orang lain dengan baik. Tapi karena mereka masih memiliki sifat egois, umumnya merespon hanya untuk hal-hal yang menguntungkan dirinya saja. Adalah sangat penting mengajarkan anak untuk mendengarkan, sebelum mengacuhkan Anda dan orang lain menjadi kebiasaannya.

Anda bisa mulai mendorong balita untuk mendengar dengan strategi ini:

  • Tak Perlu Berteriak

Sebaiknya jangan berteriak dan memaksa anak untuk mendengarkan perkataan Anda. Berteriak pada anak justru membuat mereka merasa cemas, lebih agresif, dan cenderung lebih keras kepala. Dekati ia, sentuh bahunya, panggil namanya dan katakan keinginan Anda. Jangan bicara sebelum balita melakukan kontak mata dengan Anda. Bila ia tak menjawab, minta dengan nada ramah untuk menatap Anda.

  • Posisi Tubuh Ketika Bicara Sejajar Dengan Anak

Posisikan tubuh kita sejajar dengan tinggi badan balita dan jangan terlalu jauh darinya. Dengan begitu, perhatian anak bisa lebih mudah fokus dan menangkap pesan atau perkataan yang dilontarkan orangtua. Jika anak terlihat tidak memperhatikan, sentuhlah dia untuk menarik perhatiannya. Sikap itu menunjukkan keseriusan kita dalam berkomunikasi. Jarak yang jauh atau kesibukan Anda pada kegiatan tertentu membuat alur komunikasi takkan sampai dengan baik. Misalnya, Anda bicara kepada anak sambil membaca koran di ruang tamu atau menonton TV. Tentu anak merasa dirinya tidak dianggap penting, omongan kita pun tidak dianggapnya penting. Akhirnya anak tidak menangkap pesan yang dimaksud.

  • Gunakan Kalimat Pendek Atau Sederhana

Gunakan kata-kata yang tidak terlalu panjang apalagi berbelit-belit. Bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tak berminat diajak ngobrol, boleh jadi itu karena ucapan kita tak dipahaminya entah karena bertele-tele, atau karena berupa kalimat-kalimat perintah dan melarang. Semakin kita bertele-tele, maka anak akan semakin menutup telinganya. Buat kalimat yang mudah dipahami dan langsung tepat sasaran, minta ia mengulang instruksi Anda sehingga ia ingat apa yang harus dikerjakan.

  • Tunggu Waktu Yang Tepat

Perhatikan, apakah anak sedang asyik dengan kegiatannya? Kalau ya, mungkin percuma saja mengajaknya bicara. Lebih bijak kalau kita tunggu dulu sejenak, sampai ia sudah menyelesaikan aktivitasnya. Kadang sulit mengalihkan perhatian anak dari hal yang sedang ditekuninya. Kalau dia sedang asyik bermain, jangan langsung diinterupsi. Mulailah dengan pendekatan dulu agar anak tak merasa kegiatannya diganggu atau tak dipaksa menimpali omongan kita. Jangan lupa, setelah ia mendengarkan Anda, berilah pujian dan apresiasi.

  • Jangan Hanya Menyuruh, Tapi Ajak Lakukan Bersama

Saat melihat mainan balita begitu berantakan, takkan efektif bila kita hanya menyuruhnya membereskan. Langkah yang bijaksana adalah jika kita mengajaknya membereskan mainannya. Dengan begitu, unsur perintah lebih tersamar. Anak membutuhkan contoh nyata dari orangtua. Langkah ini juga memupuk sikap mandirinya, sekaligus mengajarkan bagaimana menjalin kerja sama. Dengan saling membantu, maka pekerjaan akan lebih cepat selesai.

  • Sesekali Bersikaplah Tegas

Bersikap selalu lembut sebenarnya kurang baik juga bagi perkembangan balita. Agar anak bisa taat aturan, sikap tegas juga perlu ditunjukkan. Katakan permintaan Anda hanya sekali atau dua kali, dan tambahkan konsekuensinya. Contoh “Kalau kamu tidak membereskan mainanmu, kita tidak akan pergi ke mall.” Sikap tegas berarti mengatakan apa yang harus dilakukan dengan nada bicara yang datar namun jelas. Dengan bersikap tegas, anak akan merasa segan pada orangtua sehingga mengajarkan anak untuk mendengarkan setiap kali Anda bicara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by wp-copyrightpro.com